Di suatu malam, di tempat yang sebelumnya belum pernah aku jamah dan jauh dari orang tua untuk mencari sesuap nasi dan ilmu... yahhhh perantauan... aku anak perantuan yang walaupun sering jauh dari orang tua, karna sejak SMA sudah mulai hidup di asrama, kuliah di luar kota dan sekarang sedang berburu ilmu dan rejeki di kota orang... aku termenung memikirkan, sebenarnya apa yang membuat aku mau tinggal di kota orang ini?
Berawal dari seorang anak yang ingin membanggakan orang tuanya dan orang yang dia sayangi di luar dari keluarganya, atau yang sering anak muda bilang adalah pacar, kekasih, teman hidup atau apalah itu. Ketika ada tawaran kerja di luar kota,bahkan luar pulau. awalnya aku menolak, bukan karna tidak ingin kerja di tempat itu, tetapi karna sebenarnya belum siap harus melangkah keluar dari zona nyaman dan jauh dari orang-orang yang aku sayang tersebut. akhirnya karena suatu keinginan yang aku sebut tadi, aku memutuskan untuk menginjakkan kakiku ke kota orang lain.
.......... 2 minggu berlalu di kota orang......................
ketika sedang merasa membutuhkan seorang teman ngobrol, disitu aku malah kehilangan orang yang aku sayang yang disebut pacar, kekasih, teman hidup atau apalah itu. mungkin bukan kehilangan karna dia juga masih tetap ada di bumi ini, tapi lebih tepatnya hubungan kita renggang dan yang awalnya teman spesial, atau pacar atau apapun itu, sekarang menjadi teman biasa yang benar-benar biasa. beberapa bulan setelah itu aku menemukan seorang teman, yah bisa jadi teman, sekaligus kakak, sekaligus calon teman hidup... (mungkin). Bisa dibilang berbagi cerita dengannya itu membuatku nyaman. Dia jago bernyanyi dan kepribadiannyapun aku akui cukup menarik untuk aku selami, waktu itu. dia kerap sekali menyanyikan lagu untukku entah aku dalam keadaan senang, sedih, susah, gembira, panik atau apapun itu dia menyempilkan sebait dua bait lagu untuk menengkan dan menetralkan suasana hatiku. layaknya radio yang selalu memutarkan lagu dan celotehan penyiarnya, begitu juga dia tak jauh berbeda dengan radio. yang buat berbeda adalah dia selalu membuatku nyaman dan memberikan banyak solusi atau bahkan ketika dia tak bisa memberi solusipun dia tetap mendengarkan celotehanku dan aku pun senang walau belum menemukan solusi setidaknya ada pendengar yang mau mendengarkan celotehanku.
kita pernah bertemu di kota perantauanku maupun di daerah tempat dia tinggal. kita bergantian untuk saling berkunjung. Aku mengenalnya cukup lama, tapi baru mengenal dia lebih jauh baru saat aku berada di perantauan. Aneh rasanya, ketika dekat dan satu kota aku merasa biasa saja. tapi waktu yang membuat kita bisa mengenal lebih jauh lagi satu sama lain.
sekian bulan menjalin komunikasi yang baik dengannya, akhir bulan kemarin dia mulai menjadi manusia yang timbul tenggelam, yah mungkin dia lelah dengan keadaan ini yang kita terpisah oleh jarak dan waktu. padahal rencananya ketika liburan sabtu minggu atau liburan apapun yang merupakan libur nasional aku berencana pulang kekotanya, karna hari kerjaku dari hari senin sampai sabtu, tidak seperti yang lainnya yang kerja dari hari senin sampai jumat. Aku sudah membeli tiket ke kota tersebut, dan mungkin tak kan ku gunakan atau aku akan tetap ke kota itu tapi tak bertemu dengan nya.... yah inilah kisah yang disebut Long Distance tanpa pondasi yang kuat. dan sekali lagi aku kembali sendirian....
disini aku termenung mungkin aku memang diminta Tuhan untuk fokus ke karirku terlebih dahulu, atau mungkin jangan lagi melakukan hal untuk orang lain dengan merelakan apa yang sebenernya kamu sukai,untuk orang yang belum pasti dia terbaik untukmu, kalau memang kamu belum siap untuk sakit hati (lagi). . .
oke udah pagi dan aku harus kerja lagi.. lanjut ke cerita berikutnya ya bloger mania... terimakasih sudah membaca coretanku..